CLAMP JUMP Chapter 01

Standar

Saat bunga sakura gugur dari kelopaknya, tahun ajaran baru pun dimulai. Aku Shirou Kamui akan memulai kehidupan baru di SMA Horiokoshi tahun ini.

“Yosh! Ganbaruyo!” gumamku semangat sambil mengepalkan tanganku.

****

Tahun ini, aku pindah dari Okinawa dikarenakan rekomendasi dari sekolah untuk sekolah di sini. Yang kudengar itu, di sini adalah sekolah khusus untuk anak laki-laki yang berprestasi dan mempunyai tampang yang bagus.

Ketika aku masih bersekolah di SMA 1 Okinawa, aku pernah ikut klub modern dance dan model, dan itu pun karena guruku bilang aku mempunyai wajah dan bentuk tubuh yang bagus sebagai seorang dancer dan model, dan guruku pun memohon padaku untuk bisa ikut klub tersebut sebagai perwakilan sekolah dalam mengikuti lomba model. Aku hanya bisa pasrah saat aku dipaksa masuk dan saat kuceritakan pada Ibuku, beliau hanya cuek saja dan mengatakan padakau untuk mengikutinya saja.

Yah, kalau pun aku mengaca diriku sendiri, wajahku memang bisa dibilang oke karena banyak yang bilang kalau wajahku seperti seorang artis. Tapi, aku sendiri tak peduli apa bentuk wajahku dan tampangku seperti apa, yang penting aku bisa mewujudkan impianku.

Impianku sebenarnya adalah bisa menjadi dokter dan penulis, namun ketika aku masuk modern dance dan model, aku merasa aku pun juga bisa menjadi model dan dancer karena untuk mempelajarinya menurutku mudah sekali. Hanya mengikuti gerakan yang berkelanjutan dengan timing yang tepat dan berjalan diatas catwalk dengan gayaku sendiri. Namun aku lebih menyukai model karena aku suka berpakaian modis seperti layaknya model dan bisa bergaya di depan kamera maupun diatas panggung catwalk.

Hingga akhirnya saat aku direkomendasi untuk masuk SMA Horiokoshi yang lebih memperdalam dua bidang tersebut dan aku menyetujuinya, begitu juga dengan ibuku sambil mengatakan kalau aku bisa menghadapinya aku pasti bisa.

Hari pertama aku pindah memang terasa asing bagiku karena daerahnya jauh berbeda dengan Okinawa tempat aku tinggal dulu. Namun, aku diberi waktu untuk menyesuaikan diri selama tiga hari dengan dipandu oleh guru yang ada di Tokyo. Aku diajak berkeliling Tokyo sebentar untuk mengetahui lokasi-lokasi dimana aku bisa membeli alat tulis dan kebutuhan lain. Dan aku juga ditunjukkan jalan menuju ke SMA Horiokoshi dari kos-ku. Ternyata tidak terlalu jauh seperti yang kukira dan penghuni kos-ku juga orang-orang yang ramah. Yah flatku seperti semacam apartemen yang dibawahnya seperti café. Jadi kalau aku mau makan tinggal turun ke café itu.

Dan dihari inilah aku mulai masuk sekolah. Sekolah yang memiliki gerbang setinggi dua meter ini terlihat sedikit terbuka dengan seorang guru yang sedang berjaga di depannya. Lalu, guru itu pun menoleh ke arahku dan raut wajahnya berubah saat melihatku.

“Oh, Shirou-kun!” serunya sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku pun mempercepat langahku dan menghampiri guru tersebut.

‘Maaf, saya terlambat, Pak.” Ucapku sambil membungkuk hormat. Guru itu pun juga membungkuk hormat padaku.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu datang tepat pada waktunya. Nah, ayo saya tunjukkan kelasmu. Dan, oh, selamat datang di Horiokoshi.” Sambutnya lalu masuk ke dalam sekolah yang terlihat megah tersebut.

Sambil berjalan melewati lorong-lorong putih, aku melihat pohon sakura yang tengah menggugurkan bunganya. Pemandangan yang indah mengingatkanku dengan Okinawa tempat tinggalku dulu. Sayangnya yang pergi ke Tokyo hanya aku sendiri, sedangkan Ibuku tinggal di Okinawa, dan Ayahku sendiri sudah meninggal lama sejak aku masih SMP kelas satu.

Pada akhirnya, aku sampai pada sebuah kelas yang ditunjukkan guru tersebut.

“Nah, Shirou-kun. Inilah kelasmu yang baru.” Kata guru tersebut tersenyum padaku. Aku pun mengadah ke atas, melihat papan yang menunjukkan kelasku. Kelas 10-B. oke, sekarang waktunya masuk kelas.

Guru tersebut masuk ke dalam kelas terlebih dulu, lalu aku masuk mengikutinya dari belakang.

“Semuanya, perhatian! Harap tenang!” perintah guru itu berseru pada murid-murid kelas dan semuanya pun terdiam dan memandang ke depan kelas. Entah kenapa aku merasa saat mereka memandangku, mata mereka seperti melihat sesuatu yang sepertinya aneh padaku dan sesuatu…

Mereka hanya tersenyum kecil dan menahan tawa mereka saat melihatku.

“Inilah murid pindahan dari Okinawa yang pernah kuceritakan dulu. Nah, Shirou-kun, bisa kamu tulis namamu dan kenalkan dirimu pada teman-temanmu barumu.” Ucap guru itu sambil menyodorkan kapur tulis padaku. Aku pun menerimanya dan menulis namaku di papan tulis. ‘Kamui Shirou’

“Salam kenal semuanya. Namaku Kamui Shirou, kalian boleh memanggilku dengan nama kecil saja. Kuharap kita bisa berteman dengan baik. Yah, itu saja sepertinya yang bisa kusampaikan ke kalian.” Ucapku dengan nada gugup, lalu membungkuk hormat.

“Hei, mumpung wajahmu seperti perempuan, boleh ga kalau dipanggil ‘Shi-chan’? rasanya kalau dipakaikan ‘-kun’ agak aneh ya.” Sahut cowok disalah satu kursi dekat jendela, dengan nada meledek. Semua yang ada di kelas jadi riuh ramai dengan lelucon itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa, kupikir lelucon itu sama sekali tidak lucu. Kesal dipermainkan seperti ini dan aku hanya bisa membrengut kesal dibuatnya.

“Sudah, sudah semuany! Perkenalan sudah selesai. Nah, Shirou-kun, ini lembar denah untuk tempat duduk kelas ini. Kamu duduk dekat Yabu-kun di situ. Jangan terlalu dihiraukan perkataannya tadi,” Kata guru tersebut memberiku lembar denah tempat duduk kelas dan menunjuk pada bangku yang kosong di barisan ketiga dari jendela kelas dan pada urutan ketiga dari belakang.

Aku pun berjalan ke tempat dudukku. Namun, saat tengah jalan aku merasa ada sesuatu yang menyentuh kakiku dan nyaris saja membuatku jatuh. Langsung saja aku menunduk ke bawah, ternyata kaki salah satu murid disampingku yang tengah menjailiku.

“Hei, wajahmu mirip cewek deh ya. Kamu itu transgender kah?” ejeknya. Teman-teman sekitarnya pun tertawa terbahak-bahak. Huh! menyebalkan sekali orang ini. Sebagai balasannya kuinjak kakinya yang masih menghalangiku.

“Auw!” teriaknya mengaduh kesakitan. Semuanya pun menoleh ke arahnya.

“Ada apa, Yoshida?” tanya guru itu dengan memperlihatkan wajah kerasnya.

“Ah, ow. Maaf, aku tidak sengaja menginjak kakinya. Aku berjalan seakan mengangkat kakiku hingga kakinya tidak terlihat olehku.” Jawabku mengelak cepat, lalu aku segera menduduki tempat dudukku dan menggantungkan tasku di gantungan sisi mejaku.

Aku pun menghela nafas panjang dan melihat denah tempat dudukku. Kulihat sebelah kanan tempat dudukku nama muridnya adalah Yabu Kota. Lamunanku jadi buyar ketika sebelah kananku ada yang mencolekku.

“Hei..”sapa orang yang mencolek lenganku tadi.

“Ah…iya,anu….Yabu-san kan?” tanyaku gugup.

“Yup, tapi, kamu tidak usah terlalu formal bagitu. Panggil saja aku Yabu atau pakai tambahan ‘-kun’ dibelakangnya. Anu, kamu boleh kupanggil Shirou-kun?” tanyanya sambil tersenyum simpul, lalu mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menjabat tangannya itu.

“Salam kenal ya,’ ucap Yabu tersenyum lebar.

“Iya,” sahutku ikut tersenyum.

“Kamu sudah punya bukunya?” tanya Yabu melepaskan jabatannya.

“Belum. Hari ini aku baru mau mengambil bukunya dari guru itu. Anu….siapa namanya?” bisikku sambil menunjuk sedikit ke arah guru yang tadi mengantarku ke sini.

“Namanya, Seishirou-sensei. Beliau mengajar fisika, aku suka kalau dia mengajar, mudah dimengerti. Dan oh ya, dia juga wali kelas kita lho. Nah, untuk sementara kita barengan saja dulu bukunya sampai kamu dapat bukunya nanti.” Jelas Yabu sambil menggeser mejanya ke mejaku dan berbagi buku paket denganku.

“Ah, iya. Terima kasih.” Ucapku kembali tersenyum. Kami pun belajar bersama dengan menggunakan bukunya Yabu, lalu aku menoleh sekilas ke luar jendela. Sakura berguguran memang begitu cantik, kira-kira akan terjadi apa ya setelah ini ? kuharap akan terjadi sesuatu yang baik nantinya dan untuk seterusnya aku masih bisa melihatnya seperti ini.

****

Waktu istirahat…

“Nah, ini buku-bukumu, Shirou-kun.” Ucap Taro-sensei memberiku buku-buku pelajaran yang ia janjikan saat mau keluar kelas. Aku datang ke ruang guru bersama Yabu untuk membantuku membawa buku-bukuku, dan itu pun juga bukan keinginanku untuk meminta bantuan, malah Yabu sendiri yang menawarkan dirinya untuk membantuku.

Yah, memang bukunya sedikit berat dan lagi semua buku ini akan dipakai sampai aku lulus nanti. Jadi, membawanya pun agak berat karena jumlahnya juga banyak.

Masing-masing dari kami berdua membawa tiga kardus ukuran sedang berisi buku-buku pelajaran.

“Terima kasih, Sensei. Saya permisi dulu.”pamitku sedikit membungkuk, lalu keluar ruangan sambil membawa kardus-kardus yang berisi buku pelajaran. Kalau soal buku tulis, sudah disiapkan oleh Ibuku. Jadi, aku kesini bukan hanya berbekal uang saja, aku pun juga berbekal buku tulis.

Selama perjalanan menuju ruang loker, aku dan Yabu harus menahan rasa pegal tangan kami karena beban berat yang kami bawa. “Shirou….kun…” rintih Yabu dengan muka masam.

“Apa?” sahutku cuek dengan nada datar.

“Kamu tidak berat kah bawa bukumu yang berat seperti ini?” tanya Yabu sambil membenarkan posisi kardusnya yang hampir melorot.

“Ya berat lah! kamu pikir aku tidak merasa berat? hanya saja ibuku bilang kalau banyak menggerutu juga akan menambah berat yang kita bawa.” Gerutuku dengan nada kesal.

Baru tengah pembicaraan, saat di belokan lorong, tiba-tiba aku menabrak seseorang di depanku. Kami bertubrukan begitu keras hingga aku dan dia terjatuh dilantai bersamaan dengan jatuhnya kardus-kardus bawaanku.

“Shirou-kun!” seru Yabu terkejut dari belakang dan langsung menyusul ke tempatku jatuh tadi.

“Khh…sakit..” ringisku sambil memegang perutku yang sakit karena tabrakan tadi.

“Kamu tidak apa-apa? maaf, tadi aku tidak melihatmu saat jalan.”ucap orang yang ada di depanku.

“Ngga..ngga apa-apa kok,” rintihku berusaha berdiri. Kemudian, Yabu menghampiriku yang tengah berusaha berdiri.

“Shirou-kun, kamu ngga apa-apa? bisa berdiri? sini kubantu.”ucap Yabu dengan nada khawatir, lalu meletakkan kardus-kardus bawaannya dan membantuku berdiri.

“Aku ngga apa-apa. Terima kasih, Yabu-kun.”ucapku sambil menepuk-nepuk celanaku yang sedikit kotor akibat tubrukan tadi.

“Nih,” kata cowok yang didepanku sambil menyodorkan saputangannya yang berwarna biru muda.

“Ah, tidak, terima kasih. Aku sudah ngga apa-apa, kok” tolakku sambil mengangkat sedikit kedua tanganku.

Namun, tangannya malah menyentuh dan mengelap wajahku yang sepertinya ada debu disitu. Suasana sekitar lorong jadi tampak sepi dan tercengang karena semuanya melihat ke arahku dan cowok yang sedang megelap wajahku ini.

“Sangat disayangkan kalau wajahmu sampai kotor, apalagi terluka karena wajahmu begitu cantik,”kata cowok itu sambil tersenyum padaku.

“Eh?” sahutku terkejut. Dia bilang kalau aku…cantik? apa aku tidak salah dengar? dan setelah mendengar dia berkata seperti itu darah rasanya naik ke kepala, wajahku terasa memanas dan merah, dan jantungku berdetak cepat. Sesaat aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku pun melihat sekitarku, mereka semua tercengang, dan termasuk Yabu melihatku dan cowok yang mengelap wajahku tadi. Perasaan apa ini? kenapa dadaku jadi terasa sesak dan kepalaku rasanya berat dan mataku rasanya akan menumpahkan air mata?

“Hei, kamu kenapa?” tanya cowok itu dengan nada heran.

Aku pun menoleh ke cowok itu dan menatapnya dalam-dalam. Lalu, aku mengambil kembali kardus-kardus yang tadi berjatuhan dengan cepat.

“Shirou-kun….”ucap Yabu pelan.

Ketika mau mengambil kardus yang terakhir, cowok itu yang mengambilnya terakhir.

“Ini, kamu bisa membawanya? atau perlu kubantu?” ucap cowok itu menawarkan bantuannya.

Aku hanya menggeleng, lalu aku kembali menatapnya. Kali ini aku menatapnya dengan tatapanku yang tajam ke arahnya.

“Kau….”ucapku pertama.

Semua pun menunggu suasana selanjutnya dan semuanya pun menegang. Suasana menjadi sunyi dan tegang selama beberapa saat. Sampai kulihat Yabu menelan ludahnya saking tegangnya. Bahkan ada pula yang merinding ketakutan saking tegangnya, ada yang menganga lebar-lebar hingga teman sebelahnya harus menutup mulutnya yang menganga, dan yang paling parah adalah orang yang merekam adegan kami berdua yang sedang menegangkan suasana.

Aku pun mengambil nafas panjang dan kukeluarkan setengah nafasku keluar. Dan saatnya aku bilang….

.

.

.

.

“Kau….MENYEBALKAN!” semprotku kesal kepada cowok itu, lalu aku berlari keluar lorong tersebut.

“Shirou-kun!” seru Yabu kembali mengambil kardus bawaannya dan menyusulku cepat.

Suasana menjadi riuh ramai dilorong itu karena keterkejutan mereka. Cowok tersebut juga terkejut dan hanya bisa memasang wajah heran dan mengangkat bahu.

****

Sambil menahan rasa kesalku, aku pergi ke lokerku dengan wajah merengut kesal.

“Shirou-kun!” seru Yabu dari belakang. Aku sendiri tidak menghiraukan panggilannya dan berhenti di lokerku dan membuka lokerku.

“Shirou-kun, kamu kenapa sih? tau-tau kamu langsung lari begitu saja, kamu marah kah?” tanya Yabu sambil mengatur nafasnya. Aku selesai meletakkan kardus-kardus yang kubawa ke dalam loker dan mengambil kardus-kardus yang dibawa Yabu.

“Ngga marah sih, cuma kesal saja.” Ucapku ketus, lalu mengunci lokerku.

“Haah…aku tahu kamu kesal, tapi kalau kamu seperti tadi, bisa saja orang tersinggung. Apalagi dia itu tadi adalah kakak kelas lho. Lain kali kamu kendalikan emosimu, Shirou-kun.”jelas Yabu menasihatiku. Aku pun menghela nafas panjang dan mendinginkan kepala sesaat. Yah, mungkin aku memang emosi tadi, yang tiba-tiba marah sama orang yang menabrakku tadi.

“Haah…iya deh. Maaf, Yabu-kun. Terima kasih, aku usahakan untuk mengendalikan emosiku.” Ucapku tersenyum pada Yabu dan menghembus nafas panjang.

“Yosh! begitu dong, Shirou-kun! mumpung masih istirahat, yuk kita jajan ke kantin.” Ajaknya sambil main rangkul pundakku.

“Tapi, aku ada bawa bento sendiri…” ucapku

“Ngga apa-apa, kamu bawa bentomu ke kantin. Nanti aku yang traktir minumnya deh.”

Sahutnya sambil mengacungkan jempol.

“Oh, okelah kalau begitu.”jawabku. kami pun pergi bersama menuju kantin.

****

>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s