X-Tokyo Revelation Chapter 01

Standar

Dua tahun setelah Kamui datang bersama Subaru di Tokyo Kiamat, Kamui bertemu kembali dengan Fuuma, teman masa kecilnya. Mereka berdua kabur ke tempat itu demi melindungi Subaru yang telah dikhianati oleh Seishiro karena telah mengembalikan kekuatannya.

Sambil merenung di tepi tebing bawah tanah, Kamui mengingat masanya sebelum dia ke situ dan sebelum dia mulai membenci Fuuma.

***
Ketika Kamui masih kecil, dia tidak pernah punya teman. Dia selalu dijauhi oleh teman-temannya karena takut padanya yang merupakan keturunan darah murni vampir. Mereka takut kalau sampai mereka dibunuh oleh vampir yang rumornya suka meminum darah manusia.

Padahal dalam kenyataannya, Kamui tidak pernah merasa haus darah manusia dan juga tidak takut pada siang hari. Dan sehari-harinya, hanya Subaru, saudara kembarnya yang bisa dijadikan teman bermainnya.

Suatu hari, ia pergi ke taman tempat anak-anak desa biasa bermain. Di kejauhan ia hanya bisa melihat anak-anak bermain sambil tertawa. Rasa kesepian dalam dirinya, membuat ia berpikir kalau manusia itu jahat dan egois. Akhirnya ia pergi ke sebuah hutan kecil dekat rumahnya. Di sana merupakan tempat ia biasa istirahat sambil berdiam diri di bawah pepohonan yang rindang.

Ia pun duduk di bawah pohon dan berpikir, “Andai saja aku sama dengan mereka, aku pasti tidak akan begini. Aku juga bingung, kenapa aku dilahirkan sebagai vampir ?”

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di balik semak-semak. Kamui tekejut, langsung pergi ke arah sumber suara. Lalu, ia melihat seorang anak laki-laki sedang mengaduh kesakitan. Wajahnya oval dan matanya sipit terlihat kotor dengan debu di wajahnya.

“Kamu tidak apa-apa ?” tanya Kamui. Sebenarnya, ia merasa takut kalau sampai anak itu takut karena dirinya yang seorang vampir. “Aduduh….ngga apa-apa kok,” sahut anak itu tersenyum sedikit kesakitan.

“Kamu habis ngapain tadi ? Kok bisa sampai jatuh ?” tanya Kamui

“Aku habis mengembalikan anak burung yang jatuh dari pohon ini. Pas mau turun, kakiku terpeleset dan jatuhlah aku. Hahaha, aku ini ceroboh ya….” kata anak itu sambil cengengesan.

Kamui terdiam sebentar memandang anak itu. “Apa dia tidak takut padaku ya ?” gumamnya heran dalam hati.

“Bagaimana kalau kamu ke rumahku untuk mengobati lukamu ?” tawar Kamui agak takut-takut hingga suaranya terdengar bergetar.

“Eh ? boleh nih ?”

“Tentu…” ucap Kamui lalu mengulurkan tangannya dan anak itu pun menerima tangannya.

“Oh ya, ngomong-ngomong namaku Fuuma. Kamu ?” ucap Fuuma

“Kamui…” sahut Kamui

“Baiklah, makasih ya Kamui…” ucap Fuuma tersenyum polos.

Kamui yang melihat Fuuma tersenyum jadi merona wajahnya, lalu mereka menuju rumah Kamui berada.

Sesampainya di sana, luka Fuuma langsung diplester oleh Kamui. “Wah, maaf ya, sampai bikin repot kamu…”ujar Fuuma yang tengah dibalut luka di kakinya.

“Ngga apa-apa, aku sudah biasa kok,” ucap Kamui dengan wajah datar

“Rumahmu sepi ya, orang tuamu ke mana ?” tanya Fuuma

“Kerja….”

“Kerja apa ?”

Kamui terdiam sebentar dengan wajah sedih, “Agensi Perkumpulan Klan Vampir….” ucap Kamui

“Vampir ?”

“Iya…seperti yang pernah kamu dengar rumornya kalau vampir itu kuat dan haus darah manusia. Kuat sih kuat, tapi kami tidak menggunakan kekuatan kami untuk menyerang manusia. Meski begitu, ada klan vampir lain yang haus darah manusia, sehingga kami dianggap tabu oleh masyarakat di sini,” jelas Kamui panjang lebar.

Fuuma yang mendengarnya tecengang dengan cerita Kamui.

“Jadi, kamu anak dari para klan Vampi itu ?”ucap Fuuma

“Ya, tapi bukan yang jenis penghisap darah manusia….” sahut Kamui mulai takut

“Waah, hebaat !!! Berarti kamu orang hebat dong. Untung aku bisa ketemu kamu hari ini….” ujar Fuuma girang.

“Lho kok, kamu malah senang ?” tanya Kamui heran

“Tentu saja, Kamui. Kalau vampir sepertimu tentu saja kuat ! Aku dari dulu ingin sekali jadi kuat seperti vampir. .” ujar Fuuma sambil menggenggam tangan Kamui

“Kenapa begitu ?”

“Karena kuat itulah, makanya mereka bisa melindungi sesamannya kan ? Aku juga ingin melindungi sesuatu yang berarti bagiku….”

“Maka dari itu…” Fuuma menggenggam kedua tangan Kamui erat-erat. “Mulai sekarang kita berteman yaaa….aku ingin Kamui bisa jadi teman bertarungku nanti, hingga aku jadi kuat dan bisa melindungi sesuatu yang berharga bagiku !” ujar Fuuma tersenyum lebar. Kamui yang menatapnya hanya bisa diam, lalu tanpa disadarinya air matanya menetes dari pelupuk matanya yang biru berlian.

“Lho kok, kamu nangis ?” tanya Fuuma heran

“Hiks…baru kali ini…ada yang mau mengatakan ‘teman’ padaku setelah sekian lama aku dijauhi teman-teman di desa. Aku….aku benar-benar senang bisa berteman denganmu,” ucap Kamui terisak disela-sela tangisnya. Fuuma hanya tersenyum, lalu memeluk Kamui.

Dan setelah itu, mereka melewati hari-hari mereka bersama sampai mereka berumur 18 tahun.

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s