X-Tokyo Revelation Chapter 02

Standar

Dan pada suatu hari, ketika Fuuma kembali dari perjalanannya dari ekspedisi, ia kembali bertemu dengan Kamui di sebuah bukit sebelah hutan kecil yang dulu tempat mereka bertemu pertama kali. Kini, Fuuma terlihat lebih tinggi ketimbang dengan Kamui, meski dia sendiri juga bertambah tinggi dari yang sebelumnya.

“Yo, Kamui !” seru Fuuma dari kejauhan.

Kamui menoleh ke arah datangnya suara dan menutup buku kecilnya yang baru saja ia baca.

“Seperti biasa, kamu tampak kurus dan selalu membawa buku bacaan ke sini dan….hari ini kamu kelihatan berbeda sekali dengan yang dulu….” ucapnya

“Beda bagaimana maksudmu ?” tanya Kamui

“Dulu, rasanya pakaianmu ngga semewah sekarang, ada perihal apa yang membuatmu seperti ini ?” sahut Fuuma lalu duduk disebelah Kamui

Kamui terdiam sebentar, lalu menatap langit biru di atasnya dengan tatapan hampa.

“Saat ini,umur kita sudah 18 tahun dan di umurku ini akan ada pergantian pemimpin klan Vampir yang baru. Dan untuk menentukannya, mungkin aku akan melakukan sebuah perjalanan jauh seperti yang diramalkan oleh peramal di klan Vampir. Mereka bilang kalau suatu saat klan Vampir akan habis,namun hanya akan ada tersisa beberapa orang yang akan hidup. Dan setelahnya, akan terjadi perang besar-besaran di suatu bagian dunia yang akan menyebabkan kehancuran dunia. Aku khawatir kalau itu akan terjadi padaku hingga kita berdua juga mungkin…akan terpisah dalam kurun waktu yang lama….” jelas Kamui dengan wajah muram

Fuuma hanya bisa meng’oh’kan penjelasan Kamui dan  menatap Kamui lekat-lekat. Kamui yang menyadari tatapannya jadi kaget dan heran, “Kenapa ? Ada yang salah dari penjelasanku ?” tanya Kamui heran menatap Fuuma yang kini wajahnya berubah serius

“Tidak, hanya saja kamu itu rasanya selalu terbebani oleh sesuatu yang mengganjal hatimu hingga kamu terlihat murung setiap aku bertemu denganmu…” ucap Fuuma

Lalu, Fuuma menyibakkan poni rambut Kamui hingga wajah Kamui merona. “Tapi, itulah yang membuatmu terlihat menyilaukan dimataku…selalu,” kata Fuuma tersenyum lembut

Kamui merasa jantungnya berdebar kencang seperti pompa yang akan meledak. Lalu, ia memalingkan wajahnya dari Fuuma dan menyembunyikan wajahnya yang merona tadi. Fuuma yang melihatnya hany bisa tertawa kecil dan mengejeknya. Gara-gara itu, terjadi pertengkaran singkat antara mereka berdua. Hingga akhirnya, Fuuma angkat bicara setelah suasana mulai tenang.

“Oh, ya. Aku hampir lupa, ini ada barang bagus yang aku beli saat ekspedisi ke luar negeri kemarin,” Fuuma mengeluarkan sesuatu dari sakunya, namun benda itu masih dalam genggamannya untuk sementara. “Tapi, aku ingin kamu tutup mata dulu sebelum melihatnya…” pintanya.

Kamui menuruti perkataanya dan menutup matanya. Selama ia menutup mata ia merasa sesuatu berbentuk lingkaran masuk ke jari manisnya. Tebal, namun kecil yang ia rasakan.

“Nah, sekarang buka matamu…” ucap Fuuma. Kamui membuka matanya dan dilihat apa yang ada di tangannya. Ternyata, telah terpasang sebuah cincin perak dengan permata biru sebagai unsur utama cincin itu. Kamui yang melihatnya begitu terkejut dan matanya terbelalak kaget.

“Ini hadiah untukmu. Cincin ‘Blue Diamond’ ini mempunyai arti yaitu ‘perlindungan’. Aku sendiri mempunyai pasangan cincin ini….” ucap Fuuma lalu mengeluarkan satu benda lagi dari sakunya. Ia mengeluarkan cincin yang sama dengan milik Kamui, namun dengan permata merah sebagai unsur  utamanya.

“Yang ini adalah Red Diamond, yang memiiki arti yaitu…..”ucapannya terhenti hingga Kamui penasaran dibuatnya. “…yaitu, ‘cinta’ “

Kamui terbelalak dengan ucapannya. “Maksud dari semua pemberianmu ini…apa ?” tanya Kamui takut-takut. Dan jantungnya berdebar makin cepat.

“Inilah yang ingin kunyatakan padamu sejak awal kita bertemu, Kamui….” ucap Fuuma dengan nada bergetar. Lalu, digenggamnya tangan Kamui yang terpasang cincin tadi.

“Yang kuingin nyatakan adalah aku mencintaimu Kamui…..” ucap Fuuma dengan wajah tegar sekaligus merona merah. Wajahnya seakan ingin melindungi dan tidak ingin melepaskan Kamui. Dan perkataannya seakan sebuah sumpah yang terucapkan dari mulutnya.

Kamui merona wajahnya dan ia tidak bisa berkata apa-apa setelah Fuuma menyatakan perasaannya padanya. Dan perasaan yang dirasa sekarang ini, sama halnya dengan yang di rasa oleh Fuuma saat menyatakan perasaannya tadi

“Fuuma…aku juga…sama denganmu…” ucap Kamui dengan nada bergetar. Seluruh tubuhnya kini kaku. Matanya tak tahan menatap Fuuma hingga akhirnya ia tertunduk lemas dengan wajahnya yang memanas.

Fuuma lalu merangkul kepalanya dan memeluknya dalam pelukannya yang hangat. Angin lalu menambah suasana diantara mereka berdua.

Lalu, Fuuma menarik dirinya dan menatap Kamui. Tangannya menyentuh wajahnya dan mendekat padanya. Kamui menutup matanya dan membiarkan Fuuma mencium bibirnya dengan lembut. Tangannya meraih lengan baju Fuuma ,lalu mereka berdua terbaring di atas rerumputan hijau di bukit itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s