Saya Tomoyo : Moving On

Standar

Saya dan Tomoyo baru saja pindah ke apartemen baru di Shinjuku, tempat pusatnya perbelanjaan. Sesampainya di sana, mereka langsung memindahkan barang-barang mereka ke dalam apartemen

“Yosha ! Ayo, Saya. Kita tata barang-barang kita !”ucap Tomoyo semangat

“Um!”

Mulailah kegiatan mereka menata barang-barang mereka. Well, cukup nyaman sebagai apartemen. Satu dapur, satu kamar mandi, ruang tamu,dan satu kamar yang cukup luas bagi mereka. Dan satu kamar bisa diisi sampai dua orang.

Betapa senangnya Tomoyo bisa pindah dan tinggal bersama pacarnya, Saya. Ia mulai berpacaran ketika mereka di sekolah putri Astoreyal. Saya yang merupakan seorang Etoile kebanggaan dan Tomoyo hanyalah anak klub musik biasa. Namun, takdir mempertemukan mereka. Dan akhirnya, beginilah jadinya, mereka tinggal bersama satu atap dan tentunya dengan izin kedua orang tua mereka.

Well, orang tua mereka ngga tahu kalau mereka pacaran, malah menganggap mereka sebagai sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Dan itu suatu keberuntungan tersendiri bagi Tomoyo.

Sambil menata buku-bukunya ke dalam rak buku, Tomoyo bersenandung riang. Saya yang mendengarnya hanya tertawa kecil melihat tingkah pacarnya itu. “Mmm? Kenapa, Saya ?” tanya Tomoyo bingung

“Ngga apa-apa. Lanjutkan aja…”sahut Saya seraya tak mempedulikan wajah Tomoyo yang merengut

Mereka tetap melanjutkan aktifitas mereka dengan riang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam harinya….

“huuuh….capeknya….”desah Tomoyo ,menjatuhkan dirinya di atas kasurnya yang empuk

Di kamar mereka terdapat dua kasur yang ditempatkan secara terpisah.  Sehingga bisa memilih antara mau tidur bersama atau sendiri-sendiri. Well, mungkin diantara pilihan itu, cuma Saya yang mungkin akan memilihnya.

“Tomoyo, kau ngga mau makan malam ?”tanya Saya

“Ngg…ngga ah, males aku. Aku udah keburu capek duluan. Jadinya, lupa dengan lapar deh…”jawab Tomoyo sambil menelentangkan badannya di kasur. Kemeja piyamanya yang terbuka satu kancing jadi memperlihatkan belahan dadanya tanpa disadari Tomoyo

“hmm…begitu ya…”gumam Saya mendekati Tomoyo dan duduk di tepi kasurnya sambil tersenyum…..ehm…..jail ?

“Ada apa, Saya ?” tanya Tomoyo

“Ngga…itu…..”ucap Saya sambil menyentuh kancing baju Tomoyo yang terbuka. Tomoyo yang menyadarinya langsung saja terlonjak bangun.

“Huwaa ! Kancing bajunya lepas !”jeritnya sambil menyentuh bagian kancing bajunya

“Sudahlah, Tomoyo. Besok kita cari kancingnya dan dijahit…”ucap Saya menenangkan

“Uhmm….”sahut Tomoyo mengangguk pelan

Saya jadi terbangun jika melihat daerah belahan dada Tomoyo yang menggoda dirinya itu. Langsung saja Saya mendorong Tomoyo dan membaringkannya di atas kasurnya.

“Sa…ya…”

Saya tersenyum, lalu menyentuh wajah Tomoyo. Ia mendekatkan wajahnya dengan Tomoyo, lalu mencium lembut bibir kecilnya. Tomoyo menutup matanya rapat-rapat dan mendesah dalam ciuman mereka.

“Nggh…mmh….ah….”

Saya memasukkan lidahnya ke dalam mulut Tomoyo, menjilat langit-langit mulutnya dan melilitkan lidah mereka. Hati Tomoyo terasa mendidih setiap gerakan lidahnya dan lidah Saya saling berpadu kasih. Bukan pertama kali mereka melakukannya, bahkan sebelum mereka pindah pun sudah pernah Tomoyo merasakan sensasi ini.

Tangan Saya dengan lembut menyentuh Tomoyo dan membuka kancing piyamanya. Dan so lucky, Tomoyo tidak memakai dalaman apa-apa bila ia mau tidur, langsung saja tangannya menelusuri tubuh Tomoyo yang putih mulus tanpa cacat itu.

Diputusnya pertalian lidah mereka oleh Saya dan mulai menelusuri leher mungil Tomoyo yang selalu saja menjadi santapan pembukanya. Dijilat dan digigitnya pelan lehernya hingga meninggalkan bekas kemerahan di leher Tomoyo.

“Ah……ah……ahhhnnn—–…….ummmh…….Saya…..”desah Tomoyo menikmati sentuhan Saya

Saya hanya tersenyum melihat reaksi Tomoyo. Tomoyo menahan hasratnya yang begitu besar hanya dengan sentuhan lembut Saya yang selembut sutra. Dirangkulnya kepala Saya dan dirematnya rambut hitam bergelombangnya sambil menggigit bibir bawahnya.

Saya berhenti untuk mengambil jeda. Dan jeda itu ia manfaatkan untuk mencium lagi bibir Tomoyo dengan ciuman yang memabukkan hingga Tomoyo merasa melayang.

“Ummhh….ah……”desah Tomoyo

“Tomoyo, jangan kau gigit bibirmu. Nanti bisa tegigit beneran seperti dulu….”bisik Saya sambil mencium bibir bawah Tomoyo agar tidak menggigit bibirnya sendiri

“Tapi, aku…… Aku malu, Saya…..”ucap Tomoyo menutup wajahnya dengan telapak tangannya

“Jangan kau tutup wajahmu kalau malu. Cukup pejamkan matamu dan rasakan sensasinya….”bisik Saya lagi

Tomoyo melepaskan tangannya dari wajahnya dan menutup matanya rapat-rapat. Menggantikan posisi tangannya mencengkram bawah bantal. Wajahnya memerah seperti buah apel yang manis. Saking malunya dia, Saya jadi makin semangat untuk melakukan kegiatannya.

Tangannya turun menyentuh buah dada Tomoyo. Dibukanya  kain piyamanya yang masih menutupinya dan menampakkan tubuh indahnya. Saya menyeringai. Kedua tangannya menyentuh penuh kedua dada Tomoyo hingga ia bereaksi pada sentuhannya.

“Ummh….ah !”

Mulailah tangan Saya mengusap-usap dadanya yang terasa dingin karena suhu ruangan mereka. Ia sangat menyukai sensasi saat memainkan dada Tomoyo. Dimainkannya kedua puting dada Tomoyo hingga dirasa keduanya mengerut

“Ah….ah…..ah ! Saya, jangan…nggh…..menggodaku….”ucap Tomoyo dengan wajah merona merah

“Tapi enak kan ?”sahut Saya kembali memainkan kedua putingnya

“Ngghh…..ah……hah……”

Hanya desahan-desahan lembut yang menjadi jawaban Tomoyo. Lalu, dimasukkannya salah satu puting dada Tomoyo ke dalam mulutnya, menjilat, menghisap, dan menggigit lembut bagian yang disukainya.

“Ummh……aanngggghhhh……”dirematnya rambut Saya saat sebuah gigitan kecil menghinggapi salah satu putingnya.

Saya melakukannya bergantian dengan puting yang lain sambil memainkan puting yang tidak ia hisap. Desahan Tomoyo menghiasi acara makan mereka yang semakin memanas. Well, harus ia akui kalau Saya memang jago dalam hal ini, sedangkan dia yang sebagai uke-nya tak bisa menandinginya.

“Mmmh…..Saya…..aku….”

Mengerti saat Tomoyo sudah terbiasa dengan kegiatannya, ia turun lagi ke perut langsingnya. Dicium dan dijilatnya perut langsing Tomoyo. Dan tak lupa untuk membuat tanda kemerahan sebanyak mungkin disana.

Nampaknya Tomoyo sudah bisa menikmati acara mereka ini. Sampai-sampai desahannya hampir tak terdengar lagi. Yang terdengar hanyalah suara nafas yang sedikit tersengal-sengal.

Saya sudah melakukannya hampir 15 menit, waktu yang cukup lama bukan hanya untuk menikmati setengah tubuh Tomoyo ini ? Dibasahinya bibirnya sendiri yang terasa lumayan kering itu. Tingkahnya itu membuat Tomoyo berpikir kalau Saya seperti habis memakan mangsa yang sangat enak, sampai tak mau menyisakan satu pun kelezatan di mulutnya itu.

Ia menatap baik-baik tubuh Tomoyo yang setengah telanjang itu. Tubuh yang sangat indah baginya. Menyadari kalau dirinya dilihat oleh seme-nya, Tomoyo langsung membuka matanya dan menatap kedua mata hitam onix itu.

“Saya…..”

“Kau cantik sekali,Tomoyo. Cantik dan imut….”bisiknya menggoda Tomoyo di dekat telinganya

“Ah….Saya….jangan menggodaku. Aku malu….”protes Tomoyo saat kedua dadanya kembali dalam sentuhan penuh kedua tangan Saya yang memainkan kedua puting dadanya

“Aku suka menggodamu karena wajahmu yang memerah itu yang kusuka saat aku melakukannya bersamamu…..”ucap Saya menggodanya dengan nada menyeringai

“Tapi, aku masih….lebih suka…..kalau kau….menciumku saja….”ucap Tomoyo malu-malu

“Begitu kah ? Baiklah, akan kuberikan ciuman terbaikku yang bisa memabukkan dirimu…”

Saya memberikan ciuman memabukkan pada Tomoyo. Dirangkulnya leher Saya dan menariknya lebih dalam. Ciuman yang dalam dan lama. Tomoyo dibuatnya tenggelam dalam ciuman memabukkan mereka. Lidah mereka saling berpadu kasih satu sama lain. Membuat sensasi seksual mereka makin tinggi.

“Ummhh….ahn….ngggh…..ahhn…..ahn……”desah Tomoyo setiap ciuman selanjutnya menyusul

Dan sepertinya Tomoyo tidak keberatan jika Saya melakukannya lebih dari ini.

Sudah hampir 10 menit mereka berciuman, Saya memutuskan pertalian lidah mereka lagi dan membuka celana luar sekaligus celana dalam Tomoyo untuk memulai santapan utamanya.

“Unggghh…..Saya…..”

Tomoyo melebarkan kakinya dan menampakkan daerah sensitifnya. Saya menyentuh daerah sensitifnya yang sudah mengeluarkan sedikit cairan. “Tomoyo,aku mulai…”

Tomoyo mengangguk dan menutup matanya. Dimasukkannya satu jari ke dalam liang sensitifnya dan mengeluarkannya berulang-ulang. Kini desahan Tomoyo kembali terdengar seperti saat permulaan.

“Nggh….ah….ah….ah! Ah! Ahhnnnn!….”

Dimasukkannya lagi dua jari ke dalamnya dan mulai merangsang Tomoyo. Perasaan aneh sekaligus nikmat dirasakan Tomoyo dibagian bawahnya yang paling sensitif. Ditambah lagi Saya yang tengah menghisap dan menjilat puting dadanya dengan tangannya yang satu memutar puting yang satu lagi.

Tomoyo menahan rasa terangsangnya dengan memeluk kepala Saya dan merematkan rambut panjangnya.

“Angggh…..angh….ahhhnnn…ah, AH !”jerit Tomoyo mengeluarkan seluruh hasratnya di tangan Saya.

Sensasi seks yang luar biasa bagi Tomoyo yang selalu ia rasakan ketika bersama Saya. Sedangkan Saya selalu kebagian sebagai ‘penyerang’nya Tomoyo. Dan ia sangat menyukai bagiannya itu.

Setelah sekian menit ia menyentuh ‘bagian’ Tomoyo, ia berhenti untuk membuka bajunya. Namun, Tomoyo bangkit dan menghentikan Saya.

“Biar aku saja….”ucap gadis berambut keunguan di depannya itu

Saya terkejut dengan apa yang dikatakan kekasihnya itu. Dengan tangan gemetar, ia membuka  satu per satu kancing terusan Saya. Terlintas di kepalanya kalau Tomoyo cukup nekat melakukannya setelah bagian sensitifnya di’main’kan seperti tadi. Bukankah itu rasanya sakit yang merangsang ?

Saya menghentikan tangan Tomoyo dan mencium keningnya dengan lembut.

“Sudahlah, sampai sini saja sudah cukup, sayang…”bisik Saya lembut akhirnya selesai menelanjangi dirinya

Tomoyo terpesona dengan lekuk badan Saya yang begitu sempurna, yang bahkan mengalahkan miliknya sendiri. Saya berdiri dan mematikan lampu kamar dan membuat keadaan dimana Tomoyo lemah akan kegelapan.

“Saya, kenapa dimatikan ?”tanya Tomoyo

“Untuk merasakan sensasi terakhir sebelum terlelap,”jawab Saya

Lalu, dirasa oleh Tomoyo sebuah benda besar memenuhi dirinya menabraknya dan kembali terbaring di atas kasurnya. Baru disadari kalau itu adalah Saya yang tadi menabraknya. Langsung saja dilingkarkannya kedua tangannya ke leher wanita itu dan memasukkan lidahnya kedalam mulutnya

“Mmmh……ngg,….angghh……ahh–“

Dirasakannya tubuh telanjang Saya yang menempel di tubuhnya itu. Tubuhnya tak kalah panas dibanding dirinya. Apalagi sensasi kulit menyentuh kulit mereka yang begitu sensasional membuat Tomoyo melayang.

Saya mengeratkan dekapannya dan mencium Tomoyo semakin dalam. Sedangkan Tomoyo melingkarkan kakinya dipinggang Saya seperti sedang melakukan seks dengannya (tapi, bagaimana pun itu tetap seks bukan ?) hingga membuat miliknya dan milik Saya bergesekan.

Ciuman mereka seperti tiada akhir karena Tomoyo menikmati lumatan bibirnya dan lidah mereka yang saling berpadu kasih. Sampai akhirnya mereka kehabisan nafas dalam acara ‘makan’ mereka.

Tomoyo mendorong pundak Saya untuk mengambil nafas dan mengaturnya. Begitu juga dengan Saya, mengatur nafasanya sambil membenamkan wajahnya di pundak kiri Tomoyo.

“Sa….ya………hh….kau….tidak….apa…..apa….. ?”ucap Tomoyo dengan suara nafasnya yang tersengal-sengal

“Umm…”sahut Saya dengan sebuah anggukan sambil menjilat pundak Tomoyo hingga naik ke lehernya

Sampai disisi wajahnya, ia mencium pipi Tomoyo dan mencium singkat bibir kecilnya, lalu berbaring disebelahnya sambil memeluk gadisnya di dalam dekapan hangatnya. Ditariknya selimut mereka dengan kaki Saya yang panjang dan menutup tubuh mereka agar tidak kedinginan.

“Met tidur, sayang….”ucap Saya sebelum ia menutup matanya

Tomoyo menutup matanya seperti yang Saya lakukan dan ikut tertidur di dalam pelukannya.

End~

Terlalu banyak adegan LEMON juga ngga baik buat mata. Jadi, jangan keseringan baca yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s