CLAMP JUMP 03

Standar

Pada pagi harinya, aku terbangun oleh alarm Hp-ku dan waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Aku memngucek-ucek mataku dan mengusap wajahku yang masih mengantuk. Lalu, kubuka gorden kamarku dan cahaya matahari pagi masuk menyinari kamarku. Kurapikan kasurku dan melipat selimutku. Aku membuka pintu kamarku yang menuju balkon.

Huuuf! kutarik nafas panjang dan merenggangkan tubuhku dan sedikit pemanasan. Hmm, pagi yang cerah dan cocok untuk jogging bareng Yabu hari ini. Tapi, sebelumnya aku pergi untuk cuci muka dan sikat gigi. Setelah sikat gigi dan cuci muka, kulap wajahku dengan handuk, lalu kugantungkan di tali jemuran dekat kamar mandi.

Aku menuju dapur untuk minum air putih. Namun, aku mendapati sudah ada Yuki-san sedang memasak di situ. “A…anu…” kataku

Yuki-san pun membalikkan badannya, “Oh, selamat pagi, Shirou-kun. Kamu tumben bangun pagi….” Ucapnya riang.

“ah, ngga juga. Sewaktu masih di Okinawa, saya sering bantu-bantu Ibuku dalam mengurus kuil. Jadi, saya sudah biasa bangun pagi,” ujarku sedikit tersipu.

“Tapi, apa ada yang bisa kubantu?” tanyaku.

“Hmm…kau bisa masak?” tanya Yuki-san balik

“Tentu…”

“Kau bisa tolong selesaikan yang ini dulu? aku akan menyiapkan yang lain,” kata Yuki-san.

“Oke,” sahutku. aku pun ikut memasak bersama Yuki-san, mulai menggoreng, memotong bahan, dan pada akhirnya kami selesai menyiapkan sarapan pagi.
.
.
.
.
.

“Huuf…akhirnya selesai juga,” hela Yuki-san sambil melepas celemek birunya. Aku pun menaruh piring makan di atas meja makan sambil sesekali mengelap meja dengan lap.

“Terima kasih ya, Shirou-kun. Kamu membantu sekali, baru kali ini ada anak cowok kayak kamu bisa bantu pekerjaan rumah tangga….” Ucap Yuki-san.

“Ah, bisa aja….saya hanya mikir kalau dikerjakan sendiri ya…ngga enak juga, jadi setidaknya saya bisa bantu kalau ada yang bisa dibantu,” ucapku tersenyum simpul.

“Haha….kamu benar-benar anak yang baik ya….” Puji Yuki-san. Yee aku kan udah jadi anak baik sejak dalam kandungan😀 *plak!

“Oh ya….kamu bisa bangunin Fuuma? aku akan bangunkan yang lainnya….” Pinta Yuki-san

“Lho, memangnya kenapa?” tanyaku

“Aku takut kalau sudah bangunin dia, karena dia bakal melakukan ‘itu’ kalau sudah ngamuk gara-gara mengganggu tidurnya…..jadi, tolong ya,” ucapnya sambil memohon.

“I..iya, oke oke, akan kubangunkan,” sahutku cepat lalu pergi ke lantai atas.

Kenapa harus aku yang bangunkan? Apa yang akan terjadi jika aku yang membangunkannya Tapi, ketika aku sudah berada di depan kamarnya….

Aku merasa ada firasat buruk yang menyerang bulu kudukku ini….. Apa ini yang dibicarakan oleh Yuki-san? Dengan sweatdrop aku mengeuk pintu kamarnya

“Fuuma, bangun. Waktunya sarapan….”ucapku

Hening
.
.
.
.
.
Tak ada jawaban sama sekali, apa dia sudah mati? *hus! Kamu ngga sopan Kamui >:@
.
.
.
Kuketuk lagi pintunya dan masih belum ada jawaban. Namun, tiba-tiba pintunya terbuka olehnya. Dan benar aja apa yang kubayangkan beneran terjadi. Aura pembunuhnya beneran keluar, seseorang tolong aku…

*WARNING ! LEMON AND HARD ACTION !!!!!! >_< XDD

Tiba-tiba, dia menarikku ke dalam kamarnya dan mendorongku ke atas kasurnya. "Akh ! What the fuck! Apa yang lo lakukan?!" seruku meringis kesakitan saat tubuhnya menindih sepenuhnya di atas tubuhku

Gila ni orang, badan gua sekerempeng ini ditindihnya !

"Fuuma! Minggir! Aku ngga bisa berdiri!"seruku sambil mendorongnya

Namun, kedua pergelangan tanganku langsung dicengkram kuat olehnya hingga aku meringis kesakitan. Lalu, ia mendekatkan wajahnya denganku. Nafasnya terhembus di depan hidungku dan membuat bulu kudukku tambah merinding.

Kutatap kedua matanya itu. Matanya itu, seperti mata orang yang kesepian. Apa-apaan itu? Aku baru kali ini melihat mata yang begitu kesepian itu. Apa sesuatu telah terjadi di masa lalu sebelum aku datang ke sini?

"Fuuma…"

Pada akhirnya, Fuuma mempertemukan bibir kami. Dia menciumku begitu dalam hingga aku tak bisa bernafas. Mataku terbelalak lebar saat ia menciumku tiba-tiba. Wajahku merah padam. Tapi, aku ngga bisa begini terus. Aku harus bangunkan dia dari mimpi buruknya ini!!!

Akhirnya, aku mendorongnya dengan kuat dan membuat ia terjatuh terguling di bawah kasur dengan aku yang sekarang menindih badannya.

"Bodoh! Bangunlah dari mimpi burukmu itu!"teriakku sambil memukul wajahnya dengan kuat *huwaaa, wajah Fuuma bonyoookk!!!!😥

"Kau juga bodoh! Kenapa kamu mukul gua, bangsat!"seru Fuuma balas menampar wajahku sampai tergores. Anjing! Seseram ini kah kalau dia mimpi buruk ? Baru mau kubalas lagi, Yuki-san masuk kamar

"Kamui-kun!"seru Yuki-san tiba-tiba masuk kamar ditengah-tengah perkelahian ini

Yuki-san dengan cepat membuka gorden kamar Fuuma dan membiarkan cahaya matahari masuk ke kamarnya melewati jendela kamar. Yuki-san langsung menghentikan gerakanku. Tak lama setelah itu, gerakan liarnya terhenti. Dan aku masih trauma karena dia tiba-tiba melakukan itu padaku.

Dengan nafas tersengal-sengal, aku masih menindih badannya yang ternyata masih bertelanjang dada itu. Setelah itu, terdengar suara erangannya yang masih kesakitan.

"Woi, sampai kapan kau mau menindih badanku?"ucapnya kasar

"Hoh, sudah sadar toh…"sahutku ketus

"Kamui-kun kamu ngga apa-apa? Sudahlah, kita sarapan sekarang. Fuuma kau bisa bangun?"ucap Yuki-san cemas. Aku langsung bangkit darinya dan keluar kamarnya dengan perasaan jengkel

"Kenapa Kamui menindihku tadi? Dan kenapa pipiku rasanya sakit sekali?"tanya Fuuma pada Yuki

"Sudahlah, nanti saja kuceritakan. Kau cuci mukamu dulu, baru sarapan. Setelahnya akan kuceritakan…"ucap Yuki membantunya berdiri

-o0o-

"Ohayou-gozaima–….Kamui-kun, wajahmu kenapa? Kamu tadi habis ngapain?"tanya Jihan yang tengah menyiapkan teh langsung menghampiriku dengan wajah khawatir.

"Habis bangunin Fuuma, Kak…"sahutku merengut kesal

"Sampai segitunya kah? Jahat sekali…."ucap Jihan lalu mengusap-usap pelan wajahku yang kena tampar tadi dengan hati-hati. Well, aku juga cukup syok saat dia membalas pukulanku tadi. Tapi, gimana ngga ? Dia menarikku ke dalam kamarnya dan tiba-tiba menciumku dengan deep kiss gitu, apa ngga bikin orang kalap apa ? Rasanya mau nangis aja aku ini, tapi kalau aku nangis nanti dikira ngga gentleman lagi dan cengeng.

Aku duduk di sofa depan TV ruang tamu. Tak lama, Jihan membawakan sebaskom air es dan kotak P3K. Lalu, Jihan mengompreskan pipiku yang lebam tadi dengan kapas basah dengan air es. "Auw!"jeritku kesakitan. "Tahanlah sebentar, Kamui-kun…"ucap Jihan

Setelah itu, Jihan merekatkan plester besar ke pipiku yang dikompres tadi. Meski begitu, masih terlihat pipiku sedikit menggembung akibat luka lebam tadi. Kuharap tidak membengkak begitu besar

"Nah, sudah. Kamu beneran ngga apa-apa kan?"tanya Jihan dengan cemas

"Umm..udah agak baikan kok. Makasih, Kak…."ucapku sedikit tersenyum simpul

Tak lama kemudian, Yuki-san turun dari tangga sambil diikuti Fuuma di belakangnya. "Kamui, kamu ngga apa-apa?"tanya Yuki-san cemas

"Justru malah ada 'apa-apa'nya malah,"jawabku sedikit ketus

"Sudahlah, sekarang kita semua sarapan dulu. Kamui, Fuuma, kalian tenangkan diri kalian sebentar ya,"ucap Yuki-san

Aku dan Fuuma berpandangan sesaat, lalu kami saling membuang muka masing-masing dengan kesal.

-o0o-

Yak, setelah keributan tadi pagi yang hampir menggemparkan seisi rumah beserta tetangga, akhirnya semua anggota Cats Cafe pun sarapan bersama. Kamui duduk di antara Jihan dan Yuki, sedangkan Fuuma duduk diantara Rio dan Yuki. (bayangkan aja posisi mereka sekarang bagaimana)

Suasana makan pagi begitu mencekam (memang ada horrornya ya ?). Terutama antara Kamui dan Fuuma. Mereka masih saling melemparkan aura death glare mereka satu sama lain hingga Yuki akirnya angkat bicara.

"Ehem, Kamui, Fuuma…"ucapnya seketika membuat adu death glare keduanya berhenti di tempat dan menoleh pada Yuki.

"Aku tahu perasaan kalian sekarang, tapi….tolong jangan begini dong saat pagi hari….kan ngga enak sama tetangga…"lanjutnya sambil menghela nafas panjang

"Iya tuh…"ucap Jihan sedikit ragu

"Iya, yang dikatakan Yuki-san benar. Jangan memulai pertengkaran pada pagi hari seperti tadi. Ngga baik…"tambah Rio
Kamui dan Fuuma terdiam sesaat. Namun tak lama muncul lagi death glare mereka

'Itu kan gara-gara elo! Bangun-bangun main tarik aja! Mana deep kiss lagi! Dasar maho!' batin Kamui

'Elo juga, bangun-bangun main mukul orang juga! Mana sambil bilang 'bodoh, cepat bangun dari mimpi burukmu!' lagi. Anjing bangsat ni anak!' batin Fuuma tak kalah death glare

Aura pembunuh mereka lagi-lagi muncul dengan imej awan hitam kelam dengan petir berkilat-kilat dan dua naga bumi dan naga langit sedang bertarung

"Ehem! Kamui, Fuuma,"ucap Yuki lagi. Kali ini Yuki mematikan tombol off death glare mereka berdua. Dan lagi-lagi Kamui dan Fuuma terdiam di tempat. Sambil makan, mereka tenggelam ke dunia mereka masing-masing.

Kamui masih trauma meski sudah dipeluk sama Jihan yang berlaku sebagai kakak perempuannya. Dan Fuuma juga masih ada rasa dongkol meski sudah diceritakan detailnya oleh Yuki. Mereka sama-sama berpikir kalau baru saja kemarin mereka baikan, tapi sekarang ribut lagi. Apa diawal pertemuan selalu ada yang namanya keributan untuk sementara?

Kamui melirik pada Fuuma yang masih memasang wajah masam, lalu kembali ke makanannya. Well, hari ini cukup membuat Kamui kewalahan setelah sekian lama ia hidup bersama ibunya dengan suasana hangat setiap paginya. Dan suatu kewajaran kalau dia syok mendapat perlakuan seperti pagi ini.

Ketika semua sudah menyelesaikan acara makannya, Kamui membantu Yuki membereskan peralatan makan mereka. Namun, Jihan langsung mengambil alih tangan Kamui, "Biar aku saja…."ucapnya lembut

"Tapi…"sahut Kamui menyanggah

Jihan menggelengkan kepalanya, menolak sanggahan Kamui."Umm, kau masih terluka, Kamui. Mandilah duluan,"ucap Jihan

Aku hanya diam melihat Jihan membawa peralatan makan ke dapur. Aku menghela nafas panjang, lalu melihat ke jam dinding ruang makan. Jam 7 lebih 30 menit, aku harus mandi sekarang.

Aku kembali ke kamarku untuk mengambil handuk dan pakaianku. Kemudian, aku menuju kamar mandi. Namun, saat aku sudah menyentuh gagang pintu, ada satu tangan yang menyentuh tanganku. Tangan ini…..

"Oi…"

Cih! Dia lagi……

Fuuma menatapku dengan pandangan yang ngga mengenakkan lagi. Sudahlah, ngalah aja kali ini…

"Ka-kau aja duluan…."ucapku terbata-bata sambil melepaskan pegangannya. Eneg aku dipegang-pegang olehnya….

"Tunggu!" sahut Fuuma kembali meraih tanganku

"Apaan sih?"ucapku kasar. Mau kutarik tanganku, tapi sayang dia menggenggam pergelangan tanganku dengan kuat hingga aku kesakitan. Kalau sudah begini, aku sudah tidak bisa lari darinya lagi.

Dia terdiam cukup lama sambil memperhatikan telapak tanganku. Dia ngapain sih? Baca garis tangan?

"Fuu–ma…..sa–…..kit….."ringisku kesakitan sambil memegang tangan Fuuma dan berusaha melepaskannya dari pergelangan tanganku. Kalau begini terus, aliran darahku bisa terhenti betulan!

"Hmm….."gumamnya lalu melepaskan tanganku dan langsung masuk ke kamar mandi. Anjrit ! Ngga minta maaf lagi ! Padahal kupikir aku bakal mati beneran karena aliran darahku terhenti.

Apa-apaan sih dia? Main tarik tangan orang aja. Apalagi kalau keadaannya kayak tadi…..

Untungnya ngga kelamaan dia main lihat tanganku dan langsung masuk ke kamar mandi. Kalau ngga, aku udah mati beneran di tangan dia. Kenapa…..dia begitu erat menggenggam tanganku? Apa ada sesuatu yang ia ketahui?

Kutatap tanganku yang berbekas akibat cengkramannya. Terlihat bekas kemerahan dan garis merah ditanganku. Hah? Kok ada garis merahnya segala? Apa jangan-jangan pas dia mencengkram tanganku tadi kukunya juga ikut menancap?

Kuusap pergelangan tanganku. Pada bagian garis merah kecil keluar seperti cairan merah tipis. Tanganku……

"BANGSAT KAU FUUMA! TANGAN GUA BERDARAH GARA-GARA ELO!" teriakku di depan kamar mandi dan sukses bikin kaget serumahan. Semua orang yang dekat dinding pada kejeduk kepalanya, apalagi yang ngelamun ngga jelas, langsung jatuh dari kursi pastinya.

Tapi, aku ngga peduli keadaan orang-orang rumah. Dengan kesal, aku menuju washtafel di dapur bawah dan langsung menyiramkannya dengan air dari keran. Dasar guoblok! Udah bikin mukaku lebam, tambah lagi tanganku jadi sasaran. Memangnya aku ini preman pasar yang jadi sasaran amuk masa? Atau teroris yang akan dihukum mati? ELO AJA YANG MATI !

"Jeezz, tanganku lagi yang luka…"gerutuku kesal

Setelah itu, kututup keran airnya dan mencari kotak P3K. Ah, iya, tadi Kak Jihan mengambilnya di buffet atas. Kubuka pintu buffet dekat TV dan kuambil kotak P3K di dalamnya. Huh, untung aku cukup tinggi untuk mengambilnya. Jadi, ngga perlu manggil si gorila (Fuuma) ke sini.

"Oi…."panggil seseorang dengan suara berat yang mengagetkanku. Aku menoleh ke belakang dan kulihat orang yang memanggilu. Langsung saja kupasang muka masam padanya dan mengerutkan alis dengan jengkel.

"Apa? Mau bikin luka lagi? Sini aja kalau mau ngajak kelahi !"ucapku ketus. Fuuma hanya menghela nafas mendengar kata-kataku. Lalu, dilihatnya tangan kananku yang memerah dan tergores. Ia mendekatiku dan menarik tangan kiriku.

"Hei! Apa yang—"

"Lukamu harus diobati, kalau tidak nanti ngga akan menutup,"ucap Fuuma langsung mendudukkanku di sofa.

"Sudahlah, biar aku saja sendiri,"sanggahku sedikit kasar

"Memangnya dengan satu tangan kau bisa mengobati tanganmu yang satu lagi?"tanya Fuuma sambil menatapku dalam-dalam

Khh, kalau sudah begini apa boleh buat. Aku hanya diam dihadapannya dan membiarkan dia menyentuh pergelangan tangan kananku. Lalu, dibukanya kotak P3K dan mengambil gulungan perban. Diliitkannya dengan hati-hati agar tidak menyakitiku. Kenapa disaat seperti ini dia jadi begitu lembut padaku?

Tangannya besar dan hangat. Rasa hangat ini seakan membangkitkan sebuah kenangan yang hampir terlupakan. Perasaan apa ini? Aku merasa seperti pernah memegang tangan yang sama. Entah tangan siapa itu. Tapi, rasa tangannya sama seperti tangan yang sama dengan yang kurasakan sebelumnya.

Siapa? Tangan ini……rasanya sama seperti tangan orang itu……

"Sudah nih…"ucap Fuuma. Aku terbangun dari lamunanku dan melihat tangan kananku yang selesai diperban. Hmm, rapi juga dia……
.
.
.
.
.
.
.
"Maaf…"

"Eh?"

"Maaf, tadi pagi aku….memukulmu…"ucap Fuuma dengan nada lirih. Sepertinya kali ini dia benar-benar menyesal. Aku jadi ngga enak pada Fuuma karena aku sudah kasar padanya.

"A…aku…."

"Aku benar-benar menyesal sudah melampiaskannya padamu, Kamui,"ucap Fuuma dengan nada bergetar. Di tatapnya wajahku yang masih diplester, lalu menyentuh wajahku dengan lembut. Kenapa tatapan matanya begitu sedih?

"Kau mirip dengan 'dia' makanya tanpa sadar aku menamparmu tadi. Maaf, maaf…"ucap Fuuma mengerutkan alis matanya sambil menundukkan kepalanya.

"Fuuma, sudahlah. Aku….aku mengerti kok, aku mengerti…."ucapku menenangkan. Meski begitu, wajahnya tetap saja mengeras serius. Entah kenapa dia jadi seperti ini, apa ada kejadian yang membuatnya dia jadi liar seperti itu?

Kusentuh tangannya yang tengah menyentuh bagian wajahku yang luka lebam. Ia mendongakkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan tak percaya. "Sudahlah, tak apa. Aku baik-baik saja. Tenanglah…"ucapku sambil melepaskan tangannya dari wajahku dan mengenggamnya erat untuk meyakinkan dia kalau aku baik-baik saja.

Lalu, aku tersenyum tipis padanya dan berdiri meninggalkannya. Aku meniggalkannya di ruang tamu yang tengah termenung. Entah apa yang terjadi sebelumnya aku juga tidak tahu. Mungkin kejadian itulah yang membuatnya jadi kalap seperti tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.

Setelah mandi, aku memakai kaos singlet hitam sebgai dalaman, baju kaos dengan kerudung jaket warna hitam dengan garis putih di dadaku dan juga celana training warna hitam dengan garis biru di sampingnya. Kuambil ponsel dan dompetku dan mengantonginya ke dalam saku.

Tak lupa aku mengambil topi cap putih yang tergantung di gantungan bajuku dan mengenakannya di kepalaku. Setelah itu, aku turun ke bawah ke rak sepatu dan mengenakan sepatu kets warna hitam dengan garis-garis putih di sampingnya.

Well, ngga buruk juga soal model bajuku. Aku suka cool and simple sih. Males pake yang aneh-aneh seperti waktu aku masih di Okinawa. Yuuko-san memakaikanku apa aja yang ia mau. Mulai seragam sampai kostum aneh yang paling rumit sekalpun di pakaikannya untukku. Huuh…bener-bener ngerepotin.

"Kamui…."panggil seseorang di belakangku hingga menghentikan langkahku

Aku menoleh ke arah suara itu. Oh, Fuuma toh. Bikin kaget aja. "Ya?"sahutku

"Mau kemana?"tanyanya

"Ke taman kota. Mau ketemu Yabu…"ucapku

Ia hanya meng-o-kan aja sebagai jawaban. Aku terdiam sambil mengenakan sepatu snickers milikku. Suasana menjadi agak berat entah kenapa. Akhirnya aku mencoba angkat bicara, "A-aku berangkat…"ucapku agak ragu

"Hati-hati…"sahut Fuuma sambil tersenyum padaku

Tiba-tiba saja wajahku terasa memanas saat melihat wajahnya yang tersenyum begitu. Untuk menutupinya aku segera berlari keluar café sambil menutup wajahku dengan lenganku. Senyum apa-apaan itu? Kenapa dia dengan mudahnya tersenyum padaku yang sudah memukulnya tadi?

Pelan-pelan langkahku terhenti. Perasaan apa ini? Kok jantungku berdebar kencang ya? Duh, rasanya aku malu setengah mati. Aku yakin sekarang wajahku merah banget. Aku mencoba menenangkan diriku dengan menarik nafas panjang. Sedikit demi sedikit debaran jantungku mulai normal dan wajahku sudah tidak terasa memerah lagi.

Duh, ada apa denganku? Kenapa aku jadi begitu bereaksi hanya dengan senyuman Fuuma tadi? Padahal aku tahu kalau aku dan dia baru saja bertemu dua hari yang lalu, tapi kenapa aku malah….

"Aaaahhhh!!!!! Aku bukan seorang HOMOOOOOO!!!!!!" teriakku ke arah parit besar di depanku dengan kesal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s