X-Tokyo Revelation 03

Standar

Saat aku membuka mataku, aku melihat sekelilingku. Gelap. Langit-langit terlihat begitu kelam. Aku dimana? Aku terduduk sekarang. Oh, aku masih di tepi kolam toh. Sejak kapan ? Dan sekarang sudah jam berapa ?

Kuraih saku bajuku dan mengeluarkan jam sakuku. Jam 4 sore. Berarti aku sudah tertidur selama 3 jam dong. Aku memang ngapain aja ya ? Kupikir-pikir lagi terakhir aku habis menyerang orang-orang asing yang berasal dari dunia lain dan aku membiarkan mereka tinggal di sini.

Setelah itu, aku pergi ke bawah tanah dan duduk di tepi kolam ini. Habis itu ngapain ya?

Kuusap wajahku pelan. Kurasakan seperti ada sisa cairan yang mengering di pipiku. Oh iya…..aku baru ingat, aku kan baru saja nangis tadi. Mataku juga terasa agak sembab. Pantas saja aku setelah itu tertidur karena lelah menangis. Duh, bodohnya aku…..masa’ cowok nangis cuma gara-gara cowok yang ia cintai sih? Cengengnya aku ini…..

Aku menuruni tangga kolam hingga mendekati permukaannya, lalu aku membasuh wajahku. Aku ngga boleh terlihat habis nangis di depan orang lain, nanti ditanyai macem-macem lagi. Kecuali Kakyou, dia pasti tahu segelanya tentangku seperti membaca pikiran orang. Hebat kan? Ngga ditanya aja dia sudah tahu apa yang terjadi…..

Ah, lupakan soal dia, ngga ada gunanya aku cerita. Aku keluar dari ruang bawah tanah dan menuju ruang utama dimana orang-orang pengungsian tinggal. Terlihat Yuto, Kusanagi, Nataku, dan lainnya sedang membagikan makanan pada orang-orang pengungsian. Dan seperti biasa, mereka selalu memakai topeng senyum ramah mereka agar para orang pengungsian tidak khawatir akan keadaan mereka yang juga tengah berjuang mempertahankan air mereka.

Well, aku ngerti perasaan mereka kenapa menjadikanku lawan untuk pemimpin orang Tower yang merupakan orang yang kucintai. Dan aku juga -terpaksa- menyetujui permintaan mereka itu. Yah, mau gimana lagi ? Aku juga disuruh bersabar oleh Subaru agar aku menunggu di kota ini sampai waktunya tiba.

Aku berjalan mendekati mereka yang sedang bekerja. Dan Yuto dengan tanggap langsung menyapaku. “Oh, Kamui!”

Dengan wajah datar aku mendekati mereka sambil melihat kegiatan mereka yang terhenti sejenak karena kedatanganku. “Lanjutkan saja, jangan pedulikan aku.”ucapku

Setelah itu, Kusanagi dan yang lainnya kembali bekerja. Yuto menatapku dengan tatapan bingung sekaligus khawatir. “Kamu ngga apa-apa, Kamui ? Tebasan orang tadi kupikir cukup kuat lho,”ucapnya khawatir

Yaelah, malah khawatir soal itu lagi. “Ngga, aku ngga apa-apa kok. Yang kayak gitu udah biasa aku alami,”sahutku datar lalu melewati mereka

“Kamu mau kemana? Ngga mau makan kah?” tanya Yuto

“Cari angin aja, aku belakangan…”sahutku singkat lalu keluar ruangan

Yuto hanya mengerutkan alis mata dan kembali bekerja
.
.
.
.
.
Aku menaiki tangga sampai ke atap gedung tingkat ini. Sesampainya di sana aku berjalan menuju balkon pembatas lantai gedung ini. Hitung-hitung balkon ini cukup berguna untuk bisa bersantai di atasnya dan menikmati panorama suram kota Tokyo yang sudah hancur ini.

Dari sini aku bisa melihat dengan jelas bangunan Tower yang masih berdiri tegak. Melihat Tower itu, aku jadi teringat kembali pada orang itu. Kau tahu kan siapa yang kumaksud ? Benar, itu Fuuma. Orang terlarang yang kucintai.

Well, sebenarnya ga ada yang ngelarang sih buatku untuk suka sama dia. Hanya saja mengingat dia sudah berlaku khianat padaku, aku jadi sakit hati sekarang. Kalau mengingat dia saja rasanya hati jadi makin teriris. Meski begitu, rasa ini masih ada jauh di dalam lubuk hati ini

Aku mengelus dadaku untuk menenangkan diriku. Kamui, tenangkanlah dirimu. Kau sudah cukup dengan menangis selama beberapa menit dan tertidur selama tiga jam setelahnya dan sekarang kau sudah cukup lelah karenanya.

Oke, lupakan soal dia. Sekarang aku ingin mencari udara segar saja malam ini tanpa memikirkan apa-apa dulu.

Huuf…..hah….

Kira-kira Fuuma sekarang ngapain ya?
.
.
.
.
.
.
.
Aku baru saja membereskan peralatanku hari ini. Fuh, hari yang melelahkan. Hmmm, sepertinya ini saja yang kuperlukan. Yang lain sudah selesai, jadi semuanya oke!

“Fuuma!”seru Sorata memanggilku

“Ya?”sahutku dari dalam kamarku

“Kamu ngga makan kah?”tanyanya

“Nanti! Aku masih kenyang!”jawabku

“Ah, ayolah! Jangan bilang kau lagi diet. Kamu kan udah cukup kurus, Fuuma,”ucap Sorata merajuk

“Enak aja bilang aku diet! Mana ada cowok kayak aku diet!”sahutku sambil tertawa

“Hahaha, ya udahlah. Nanti kusisakan bagianmu,”ucap Sorata akhirnya meninggalkan kamarku

Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Kemudian aku beralih pada tas ranselku. Kuraih tasku dan merogoh ke salah satu kantongnya. Saat kudapati sesuatu berbentuk lingkaran, aku langsung mengeluarkan benda itu.

Kutatap sebuah benda yang bernama cincin itu di dalam genggamanku. Cincin Red Diamond. Inilah yang kupunya sekarang. Aku sebenarnya juga punya pasangan cincin ini. Pasangannya adalah Blue Diamond. Cincin itu sudah kukasih kepada orang yang kucintai.

Kamui….

Ya, dialah orangnya. Orang yang kucintai semenjak kami bertemu di usia 5 tahun dan terus tumbuh sampai kami berumur 18 tahun. Hmm sudah berapa lama ya? Satu, dua, tiga…….ah, 13 tahun aku sudah mengenalnya.

Aku masih ingat wajah polosnya yang selalu kesepian itu. Dan setiap kali kami bertemu di tempat rahasia kami, dia selalu tersenyum ceria. Kami selalu bermain bersama di tempat itu selama kurun waktu 13 tahun. Benar-benar waktu yang menyenangkan.

Sampai akhirnya aku mengatakan perasaanku yang sebenarnya padanya. Aku tahu, cintaku ini adalah cinta terlarang untuknya. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Dan perasaan itu tidak akan pernah hilang dari lubuk hatiku.

Dan yang lebih mengerikan lagi, setelah aku menyerahkan cincin itu, aku merebut ciuman pertamanya. Kupikir dia pasti sangat shock karena aku menciumnya begitu saja. Aku awalnya merasa kalau ini ngga benar. Tapi, yang anehnya Kamui itu nerima begitu saja ciuman dariku.

Ah, cowok macam apa sih aku ini ? Bisa-bisanya melakukannya pada sesamanya itu. Apa kata kakakku nanti kalau tahu aku sudah merebut ciuman pertamanya ? Pasti dia bakal ngejek ngga jelas lagi.

Aku hanya tertawa sedih aja mengingat hal itu. Tapi, aku juga mikir kalau perasaanku benar-benar terlarang BANGET! Plis, seumur-umur itu pertama kalinya melakukannya pada orang yang kucintai. Dan mungkin aja kenangan itu merupakan pertama dan terakhirku.

Tahu aja kan kalau sekarang Kamui sikapnya gimana? Dia jadi liar dan dendam padaku cuma karena waktu itu aku bersama kakakku pas ngejar mereka. Well, sebenarnya pas waktu itu aku benar-benar SHOCK BERAT! Kenapa bisa-bisanya kakakku mengincar kakak-beradik kembar itu? Memang ada urusan apa dengan mereka?

Dan sampai saat ini jawaban itu belum kutemukan. Itu pun cukup membuat kepalaku pening. Aku juga sudah ngga tahu lagi mau bersikap bagaimana di depan Kamui. Dia terlihat begitu membenciku sekarang. Dan itu membuat hatiku jadi teriris karenanya.

Kamui, apa salahku padamu? Apa kamu dendam cuma gara-gara waktu itu aku bersama kakakku? Padahal waktu itu aku ngga bermaksud untuk menangkapmu. Aku cuma ingin kamu dan Subaru bisa lari ke suatu tempat yang aman dan jauh dari kakakku.

Aku cuma mau melindungimu, Kamui….

Tapi, kenapa kamu lari dariku? Kenapa kamu jadi berubah begitu? Salahkah aku sekarang kalau aku ingin kamu kembali padaku? Padahal kamu tahu perasaanku sebenarnya kan? Aku sudah mengatakannya kan?

Kugenggam erat-erat cincinku dan mencium kepalan tanganku.

Kamui, kumohon….kamu jangan berubah. Aku masih cinta sama kamu….
.
.
.
.
.
.
Perasaan ini masih ada pada diriku dan aku tidak ingin rasa ini menghilang dari lubuk hatiku, meski itu adalah perasaan yang TERLARANG.
.
.
.
.
.
Kamui, kumohon dengan sangat sekali lagi. Kembalilah padaku…..

Agar kita bisa saling mencintai sekali lagi…..

Dan sekali lagi mengulang semuanya dari awal…

Aku tidak ingin kehilanganmu, my sweet love Kamui…..
.
.
.
.
.

-o0o-
.
.
.
.
.
Hah?

Perasaan apa ini?

Kenapa aku merasa seperti Fuuma memangilku barusan?

Kusadari posisiku sekarang tengah duduk di balkon gedung di lantai paling atas. Apa aku dari tadi melamun ya? Duh, kok bisa-bisanya aku melamun disaat begini sih….

Tadi itu, apa cuma perasaanku saja ya bisa mendengar suaranya? Suara yang terdengar lembut dan ramah itu…..pasti dia.

Cih,bisa-bisanya aku mengimpikan dia disaat bad mood gini.

Aku mengubah posisi dudukku. Tapi, tiba-tiba rasa sakit yang menusuk di pantat terasa hingga membuatku terlonjak. Apa ini? Apa aku membawa sesuatu di saku celanaku?

Kemudian, aku merogoh sesuatu di saku celanaku. Benda ini rasanya pernah aku kenal deh, apa ya? Akhirnya aku mendapati sesuatu berbentuk lingkaran di dalam genggaman tanganku.

Ini……cincinku, cincin yang diberikan Fuuma sebelumnya. Hoh, kukira apa tadi….bikin kaget aja.

Coba pake ah…..kumasukkan cincin ke jari manis tangan kananku. Hmm, pas juga…..
Kutatap baik-baik cincin dengan permata biru ini. Hmm, indahnya. Senyum lebar tersungging di bibirku
.
.
.
.
.
.
.
Eits, kenapa aku jadi kayak cewek gini ya? Masa cuma pakai cincin kok rasanya ngga ngeh banget….
Iyuuh, lanji banget deh ya aku ini…

Tapi, aku jadi merasa beda saat memakai cincin ini. Apa ya?

-o0o-

Kupakai cincin permata merahku ini ke jari manis kiriku. Hmm, lumayan. Ngepas juga di jariku.
.
.
.
.
Tapi, entah kenapa aku merasa seperti seorang suami yang tengah merindukan istrinya di rumah ya? Rasanya ngga ngeh banget deh T_T

Kutatap cincinku yang tengah melekat di jariku. Melihat cincin ini, aku merasa seperti melihat orang yang kucintai. Orang yang kucintai…..

-o0o-

Tak lama sebuah keanehan muncul diantara keduanya saat kedua jari manis mereka memakai cincin masing-masing
.
.
.
.
.

Semua menjadi serba hitam di pandanganku saat ini. Ini dimana? Kenapa aku disini? Padahal tadi aku baru saja memasukkan cincinku dan tiba-tiba semua jadi hitam.

Tempat apa ini?

“Kamui!”panggil seseorang

Siapa?

“Kamui!”panggil seseorang itu lagi. Terdengar derap langkah kaki yang besar mendekat ke arahku

Siapa? Penyusup?

Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Sebuah ketakutan mendalam menguasai diriku. Ada hawa aneh yang mendekat ke arahku. Aku langsung waspada akan kehadiran seseorang di sekitarku. Siapa itu? Apa dia musuh?

“Kamui!”panggil seseorang itu untuk terakhir kalinya. Suaranya menggema di kepalaku. Akhirnya, baru kusadari suara itu….suara yang kukenal . Suara yang paling aku kenal. Suara itu……..
.
.
.
.
.
.
.
TAP! Seseorang memegang bahuku. Dan sontak saja aku melancarkan serangan dengan sebelah tanganku.

“SIAPA ITU?!!!”seruku

Dan seketika itu juga, seranganku dihentikan begitu saja. Pergelangan tanganku berada dalam genggamannya. Keringat dingin mengucur deras dari wajahku. Tanganku gemetar hebat.

Dan yang lebih mengagetkanku lagi adalah…….tangan ini……..
.
.
.
.
.
.
“Kamui”

Aku mendongakkan kepalaku ke atas dan kutatap wajah itu. Mataku terbelalak tak percaya. Dia……
.
.
.
.
.
.
.
“Fuuma…..”ucapku akhirnya

Fuuma muncul dihadapanku sambil menahan pergelangan tanganku. Ini…..ilusi? Atau kenyataan?

“Kamui, ini aku. Dan ini aku yang nyata, bukan ilusi,”ucap Fuuma seakan membaca pikiranku

Langsung saja kutarik kembali tanganku darinya dengan kasar. Ini bukan ilusi. Ini nyata!

“Mau apa kau? Ini dimana? Dan apa yang sebenarnya terjadi?”tanyaku bertubi-tubi sambil menjaga jarak antara aku dan dia

“Kurasa ini mimpi….”jawabnya

“Mimpi?”

“Ya, mimpi kita. Ketika kedua cincin dimasukkan ke jari masing-masing, maka inilah yang terjadi,”jelas Fuuma

“Jangan-jangan ini….seperti komunikasi dalam mimpi?”

“Ya….mimpi ini terjadi jika kedua pasangan pemakai cincin ingin bertemu pada pemakai cincin yang lain dan berkomunikasi disini…..”

Aku terdiam untuk sesaat untuk waspada akan gerakannya yang selanjutnya. Kenapa perasaanku jadi gelisah? Padahal dia tidak terlihat ingin melakukan serangan padaku. Bahkan kulihat ia juga tidak membawa senjata apapun sekarang. Apa maunya dia ?

“Dan sekarang pertanyaannya adalah……”sambung Fuuma
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Apa kau merindukanku, Kamu ?”tanya Fuuma pada akhirnya

Aku terperanjat oleh pertanyaan itu. Aku….merindukan….Fuuma? Itukah yang aku pikirkan sekarang hingga terjadi seperti ini?

Aku……..

“Jangan bohong, Kamui. Aku bisa melihat jelas di wajahmu itu. Kalau kamu bohong, kita ngga bakal bisa balik lagi ke dunia nyata lho….”ucap Fuuma lagi-lagi membaca pikiranku

Aku terdiam cukup lama untuk memikirkan jawabanku. Ada dua kemungkinan yang bisa kujawab. Bila kujawab iya, dia pasti akan melakukan sesuatu padaku. Tapi, kalau kujawab tidak, aku dan dia akan disini terus dan ngga bisa kembali ke dunia nyata.

Bagaimana ini? Apa yang harus kujawab? Perasaanku campur aduk antara ingin bertemu dan tidak mau bertemu. Kalau bertemu mungkin akan menyenangkan,namun dibaliknya akan ada sesuatu yang paling aku ngga inginkan.

Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?

Aku……

Aku……

Aku……

Aku justru senang sekali bisa bertemu dengannya……

Meski hanya dalam mimpi……

Sungguh. Aku senang sekali…….
.
.
.
.
.
Fuuma yang melihatku sedang bimbang akhirnya berjalan mendekat padaku hingga jarak antara kami tinggal dua langkah lagi. Dan sayangnya, aku ngga menghindarinya sama sekali dan tetap berdiri mematung di hadapannya.

“Kamui, apa jawabanmu?”tanya Fuuma dengan lembut

Nadanya itu, sama sekali tidak berniat untuk membunuhku. Dia malah semakin melembutkan dirinya untukku. Oh, kenapa dia begitu baik padaku? Padahal aku….aku…..sudah menetapkan untuk membencinya, tapi kenapa perasaan ini justru lebih kuat dari kebencianku padanya?

Kenapa?

Kenapa begini?

Aku…….
.
.
.
.
.
.
.
“Ya…”ucapku pelan

“Huh?”

“Ya, kau benar. Aku rindu padamu. Puas?”ucapku sekali lagi. Kali ini dengan nada sedikit kasar dan bergetar.

Fuuma terkejut mendengar jawabanku. Dan yang bikin dia terkejut lagi adalah bahwa aku yang sekarang sedang…..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Kamui, kenapa nangis?”tanya Fuuma bingung sambil mendekatkan wajahnya padaku untuk melihat jelas wajahku.

Ya, kini wajahku memerah seperti kepiting rebus dan tanpa sadar air mataku keluar tanpa izin dari mataku. Mata ungu amethystku menjadi seperti kaca basah yang hendak pecah.

Kenapa disaat seperti ini aku mengatakan yang sesungguhnya ? Bodoh, bodoh, bodoh ! Kau bodoh sekali, Kamui!

“Uhh…hiks…”isakku pelan sambil menundukkan kepalaku

Fuuma menatapku dengan kasihan. Lalu, ia menyentuh wajahku dengan kedua tangannya yang besar dengan lembut dan menyeka air mataku.

“Sshh….cup cup cup….”ucapnya menenangkan sambil menyeka air mataku. Lalu, mencium keningku dengan lembut.

Kemudian, ia memelukku dengan erat di dadanya. Bodoh, Kamui! Kenapa kamu diam aja? Harusnya kamu menghindar dong! Kamu tahu dia udah khianat sama kamu kan?

Itulah penolakan batinku. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur begini…..

Aku sudah terlanjur terjebak dalam cinta terlarangku ini….
.
.
.
.
.
.
“Kamui….Kamui…..sudah, jangan menangis lagi. Aku jadi tidak bisa bicara sesuatu padamu nih,”ucap Fuuma sambil menepuk-nepuk pundakku

“Apa maumu?”tanyaku

Untuk sejenak aku tidak mendengar apa-apa darinya. Ia hanya diam sambil menunggu aku berhenti mengeluarkan air mata. Tapi, aku tidak bisa dalam posisi ini terus. Aku harus…..
.
.
.
.
.
“Aku cinta kamu….”ucap Fuuma berbisik di telingaku

“Ha-hah…?”

“Aku mencintaimu, Kamui….”ucap Fuuma kali ini melepaskan pelukannya dan menyentuh wajahku. Aku terpaku akan kata-katanya. Dia serius mengatakannya. Dia serius kalau dia……mencintaiku

“Aku serius, Kamui. Dan perasaanku ini ngga salah lagi buatku,”ucap Fuuma lalu mengusap bibirku dengan ibu jarinya dan membuat mulutku sedikit terbuka.

Ini juga ia lakukan sama seperti saat dia menyatakan perasaannya padaku dan juga saat ia merebut sesuatu dari bibirku. Dan aku hanya bisa diam dan pasrah akan segala yang terjadi.

Saat ini pun juga, dia juga melakukan hal yang sama seperti memutar ulang kaset ingatan.
.
.
.
.
.
.
.
Kami bertatapan untuk sesaat. Sampai akhirnya, aku menutup mataku dan Fuuma menyapukan bibirnya dan bibirku. Ia menyentuh bibirku dengan begitu lembut. Kelembutannya masih sama seperti yang dulu.

Perlahan kedua tanganku menyentuh dadanya dan meraih jaketnya. Ia melingkarkan sebelah tangannya di pinggangku dan sebelah tangannya lagi menyentuh kepalaku. Ia menarikku lebih dalam ke pelukan dan ciumannya yang memabukkan.

Hatiku terasa mendidih ketika ciuman kami menjadi makin dalam dan pelukannya makin erat hingga aku nyaris tak sadarkan diri. Kamui, bertahanlah. Kumohon segera lepaskan dirimu darinya.

Meski begitu, sentuhannya begitu lembut dan hangat hingga aku tidak bisa lari lagi darinya. Dia sudah menjebakku dalam pelukannya. Dan aku sudah menyerah untuknya.

“Nggh….mmph…”erangku pelan saat lidahnya mulai memasuki mulutku dan mulai menjelajahinya.

Lidahku dan lidahnya seakan berpadu kasih seperti sudah sekian lama tak bertemu dan saling bersentuhan. Wajahku tambah memerah disaat aku mulai melingkarkan tanganku ke lehernya dan Fuuma mengeratkan pelukannya hingga tubuh kami benar-benar melekat dalam.

Ciuman terus berlanjut. Suasana hening menemani kami dalam kemesraan ini. Aku sudah lama menginginkan ini.

Aku menginginkan dimana sentuhannya menenangkan diriku.

Aku menginginkan dimana kedua lidah kami bertemu dan saling berpadu kasih.

Aku menginginkan dimana bibirnya bisa menjelajahi tubuhku.

Aku menginginkan semua yang ia miliki apa adanya untukku.

Aku menginginkan dia…..
.
.
.
.
.
.
Lama-kelamaan, kakiku terasa lelah dan kami berdua terduduk di tanah gelap mimpi kami. Aku memutuskan pertalian lidah kami dan mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Sedangkan Fuuma mencium pipiku dan menyandarkan kepalanya di bahu kananku.

“Kenapa…..? Kau…..”ucapku gemetar

“Aku juga ingin bertemu denganmu, makanya aku disini sekarang, Kamui….”jawabnya datar sambil menelusuri leherku dengan bibirnya, membuatku mengerang pelan menahan hasratku.

Lalu, ia menarikku kembali ke dalam pelukannya. Kenapa aku tidak bisa lepas darinya? Kenapa dia selalu begini padaku? Bukankah dia juga ingin membunuhku?

“Aku mencintaimu……. Dan aku tidak ingin kehilanganmu, Kamui…”ucap Fuuma lirih

“Fuuma,…” aku merematkan jaketnya, menahan tangis yang hendak pecah sekali lagi

“…aku…..juga….cin-”

PRANG !!!!

Semua menjadi pecah begitu saja, dan pandanganku tentang dia menjadi hilang.

Hilang begitu saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
PRANG !!!!!

Suara seperti kaca pecah itu membangunkanku dari mimpiku.

Ketika kusadari, aku masih terduduk di balkon gedung. Mimpi itu……

Kulihat kembali tangan kiriku yang masih terpasang cincin permata biru di jari manisku. Ini bukan mimpi…ini nyata kalau aku bertemu Fuuma di dunia yang diciptakan cincin ini!

Saat aku menarik cincinku, cincin itu malah tidak mau lepas! Kenapa? Kenapa tidak mau lepas? Pada saat aku benar-benar menarik paksa cincinku, tiba-tiba sebuah rasa sakit menyengat jariku seperti tersengat listrik.

“Auw!”jeritku kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangan kiriku

Cincinnya terasa…….panas. Aku beranjak dari tempatku dan buru-buru ke ruang kolam bawah tanah. Sesampainya di sana, aku langsung mencelupkan tangan kiriku ke dalam air. Sedikit demi sedikit rasa panasnya mulai berkurang, tapi lukanya meninggalkan bekas. Terlihat warna kemerahan disekitar cincinku. Sepertinya ini bukan luka bakar yang parah. Toh, lagipula lukannya akan segera menutup dengan segera.

Ah! Aku teringat kembali saat Fuuma menciumku dalam mimpi. Duh, betapa malunya aku dicium olehnya. Dasar Kamui bodoh ! Semudah itu kah aku terjebak didalam dekapan dan ciumannya itu ?

Wajahku terasa panas sekarang. Aku yakin sekarang wajahku pasti sedang merona. Aku menyentuh bibirku dengan sisi jari telunjukku. Rasa dibibir ini nyata……

Ini nyata kalau aku habis berciuman dengan Fuuma!

Mataku terbelalak tak percaya. Tak bisa dipungkiri kalau aku…… Aku….. Aku sudah…… , melakukan itu dengannya…..

Perasaan apa ini? Perasaan ini sama seperti waktu itu….

Apa benar aku mencintai Fuuma? Apa benar aku masih merindukannya? Apa benar aku masih….. Menginginkannya?

Aku menangkupkan kedua lututku dan membenamkan wajahku ke dalamnya. Aku benar-benar tidak bisa menakan…….perasaan ini…..

-o0o-

Saat tersadar, ternyata aku masih berada di kamarku. Mimpi tadi…….nyata? Kulihat jari manis manis di tangan kiriku. Masih bertengger cincin merahku. Aku terbelalak kaget melihatnya. Lalu, ciuman tadi yang kulakukan……juga nyata?

Kusentuh bibirku dengan ujung jariku. Terasa seperti bekas ciuman di bibirku. Masa’? Tidak mungkin?

Aku…….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ah, bodohnya kau, Fuuma. Kenapa tiba-tiba kau mencium dia? Aku merasa seperti orang terbodoh di dunia. Padahal kau tahu kalau orang yang kau cintai saat ini sudah membencimu, tapi kau masih bersikap lembut padanya dan tetap menganggapnya sebagai orang yang berharga untukmu.

Bodoh, bodoh, bodoh…..

Aku mengusap wajahku untuk menyadarkanku. Oh, sekarang aku baru menyadari kalau wajahku kini terasa memanas. Dan aku tahu kalau sekarang juga wajahku tengah merona.

Dasar bodoh…..

Aku hanya bisa mendesah kecil setelah kejadian itu. Dan aku sudah tidak tahu apa yang akan kulakukan bila bertemu dengannya besok…
.
.
.
.
.
.
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s